Transfer visi (satu)

Januari 19, 2009 at 1:37 pm Tinggalkan komentar

Salah satu bahaya besar yang dihadapi oleh pelayanan mahasiswa dan kegiatan-kegiatan Kristen lainnya adalah menjadi lembaga yang kehilangan visi; generasi penerus melanjutkan kegiatan yang ada namun kehilangan semangat yang mendasari kegiatan tersebut. Nama, dukungan keuangan dan program tetap ada, tetapi orang-orangnya tidak lagi berpegang pada visi yang sama dengan pendirinya. Mereka meneruskan tradisi hanya secara pasif bukan karena mengalami sendiri dorongan dan pimpinan Roh Kudus. Akhirnya terjadi kekecewaan, kehilangan motivasi dan gerakan Kristen tersebut mengalami kiris atau bahkan kehancuran.
(Dr. Samuel Escobar)

Setiap awal tahun, apakah itu awal tahun ajaran, awal tahun kalender gregorian ataupun awal tahun pelayanan, kita selalu berbicara dan merenungkan “apa yang menjadi rencana hidup kita kedepan, apa yang akan kita kerjakan”. Kita memiliki gambaran seperti apa nantinya yang sedang kita harapkan terjadi. Biasanya didalam lingkupan pelayanan semuanya itu selalu dituang dalam program yang akan dikerjakan 1 atau 2 tahun mendatang. Program disusun sedemikian rupa dengan memperhatikan program-program yang sudah berjalan di tahun-tahun sebelumnya dan mempertimbangkan apakah program-program tersebut masih layak untuk dilanjutkan atau tidak. Dengan juga memperhatikan kemampuan dan sumber daya yang ada program yang sudah selesai disusunpun siap untuk dikerjakan dalam periode pelayanan.

Setiap orang yang ikut dalam penyusunan program merasa terbeban untuk mengerjakan program yang sudah disusunnya. Diawal tahun pelayanan pada umumnya tiap-tiap orang memiliki semangat yang sama untuk mengerjakan program tersebut, namun seiring berlalunya waktu ketika masa pelayanan sedang berjalan, tidak semua orang memiliki semangat yang sama lagi. Walaupun demikian mendekati akhir tahun pelayanan setiap orang kembali berusaha menyelesaikan program yang sudah disusun agar target pelayanan seperti yang diprogramkan dapat tercapai. Namun tercapainya target program pelayanan tidak selalu merupakan gambaran tercapainya sebuah visi dari sebuah pelayanan.

Hal yang sama dapat terjadi didalam pelayanan mahasiswa yang sedang kita kerjakan. Sangat penting bagi setiap orang yang terlibat dalam pelayanan mengetahui dan memahami apa yang menjadi visi dari pelayanan tersebut. Setiap pelayanan memiliki latar belakang visi yang membuat pelayanan tersebut menjadi ada.

Visi ada dimana-mana, visi juga ada dalam sebuah keluarga, atau pelayanan, pekerjaan atau apa saja yang Tuhan taruhkan dalam hati setiap manusia. Sebuah visi memberikan gambaran kehidupan yang akan terjadi dimasa depan. Visi membutuhkan kesabaran, motivasi, arahan dan tujuan yang jelas. Visi berakar pada Allah dan kehendakNya yang memiliki dimensi rohani yang penting dan bernilai kekal.

Visi bersifat menular, ditransmisikan dari pribadi ke pribadi. Visi dapat dijelaskan diatas kertas atau pita rekaman, namun transmisi visi selalu melibatkan manusia, karena visi akan menjadi sesuatu yang menguasai kita, seperti sebuah impian yang kita yakini sepenuh hati. Visi bagi orang percaya merupakan sesuatu yang seharusnya terjadi dan yang dapat terjadi.

Seorang visioner memahami waktu Tuhan dan menjadi sabar dalam menantikan sebuah visi terwujud. Sebuah visi membutuhkan waktu yang panjang untuk menjadi matang yang menjadikan orang-orang yang mengerjakan visi tersebut bertumbuh dan semakin dewasa dalam kerohanian. Lamanya sebuah visi terwujud juga menjadi kesempatan bagi visioner untuk setia berdoa yang membuat visi tersebut tetap segar dan jelas dan tetap bergantung pada Allah.

Sebuah visi dimasa awal lebih banyak membutuhkan pertanyaan daripada jawaban dan pertanyaan “apa yang seharusnya terjadi dan yang dapat terjadi” lebih memenuhi pikiran dibanding “bagaimana itu terjadi”. Allah akan bekerja dalam setiap orang percaya yang setia untuk ambil bagian dalam perwujudan visi Allah dalam hidup mereka. Seorang pemimpin visi seharusnya menemukan dirinya selalu sepenuhnya bergantung pada Allah, mengenali visi yang dari Allah akan kembali pada kehendak Allah yaitu memberikan kemuliaan bagi Allah. Kehidupan rohani seharusnya tidak dipandang sebagai sesuatu yang terpisah tetapi merupakan aspek yang melibatkan seluruh area kehidupan.

.

Proses mengerjakan visi juga dimulai pada waktunya Tuhan dan dalam waktu itu jugalah merupakan kesempatan untuk melemparkan visi, menyampaikannya kepada orang lain, dan pemimpin seharusnya selalu siap untuk membicarakan gambaran mental yang dimilikinya dan tetap memiliki keteguhan hati mengapa visi itu begitu penting dan bagaimana visi itu berhubungan dengan kehendak Allah. Seorang pemimpin visi harus siap untuk menghadapi berbagai macam kritikan yang membangun ataupun yang menjatuhkan bahkan memiliki sikap terbuka untuk belajar dari kritikan tersebut.

Sementara visi pasti dijunjung tinggi sebagai sebuah ketetapan, cara kita untuk bagaimana mewujudkannya bisa mengalami perubahan dan penyimpangan. Orang-orang yang terlibat mengerjakan sebuah visi, yang secara bersama bekerja untuk mewujudkan visi tersebut seiring berlalunya waktu memiliki peluang untuk kehilangan dan menyimpang dari arah yang sudah ditetapkan, itulah sebabnya visi harus selalu didengung-dengungkan, dihangatkan, dibicarakan kembali secara teratur oleh pemimpin. Semangat dan ide untuk mengembalikan keadaan seperti pada visi semula dapat berkembang kedalam sikap hidup seorang pemimpin yang harus menunjukkan teladan dalam segala aspek hidupnya walau berapapun harga yang harus dibayar. Pemimpin yang memiliki otoritas moral lebih memberi pengaruh dalam sebuah visi dibanding pemimpin hanya sebagai posisi. Sikap moral yang berpengaruh didefinisikan sebagai keyakinan dari dalam dan kemauan untuk menyesuaikan hidup sesuai keyakinan tersebut jadi merupakan kesesuaian antara keyakinan dan perbuatan. Otoritas moral melibatkan karakter, waktu dan pengorbanan. Ketika seorang pemimpin menunjukkan sikap moral seperti ini, orang lain memperhatikan dan akan mengikuti teladannya. Demikianlah pentransferan sebuah visi akan menjadi lebih efektif jika disertai juga dengan pentransferan nilai hidup dan sikap moral yang benar.(thamrin)

Entry filed under: TPPM. Tags: .

Apakah anda bertumbuh? Futsal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Januari 2009
S S R K J S M
« Mei    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Blog Stats

  • 45,961 hits

%d blogger menyukai ini: